Rabu, 24 Agustus 2016

Memandikan Si Kecil

     Bayi yang baru lahir dapat dimandikan minimal 6 jam setelah lahir dengan kondisi suhu normal yaitu 36,5-37,5 derajat C. Bagi ibu yang bersalin normal, memperoleh kesempatan untuk mengetahui cara memandikan bayi yang telah dilahirkannya secara langsung tentu tidak menjadi masalah. Berbeda dengan ibu yang bersalin dengan cara seksio sesarea.
     Pada 6 jam pertama ibu dapat mengamati cara memandikan bayi yang dibimbing oleh bidan atau perawat. Hal yang paling penting dalam memandikan bayi adalah menjaga tubuh bayi agar tetap hangat. Hal kedua adalah membuat bayi mendapatkan posisi yang nyaman dan aman ketika dimandikan. Ketiga, bayi di mandikan dengan bersih menggunakan sabun untuk kulit yang sensitif atau sabun khusus untuk bayi. Ke empat gunakan pakaian dengan bahan lembut yang cocok untuk bayi. Ke empat hal tersebut adalah hal-hal penting yang bisa dilakukan untuk membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan dan menghindari bayi dari infeksi serta gangguan kulit. Demikian informasi tentang memandikan bayi, semoga bermanfaat

     

Tentang Rejeki di Universitas AIrlangga

      Rejeki itu bukan hanya tentang uang, tetapi juga lebih kepada segala sesuatu yang diberikan kepada kita oleh Tuhan. Apapun itu.
     Saya ingin memberikan cerita pendek, pengalaman saya selama hidup hingga 22 tahun ini, Dahulu kala, saya, suatu hasil pembuahan sperma dan ovum yang bersatu, mengalami pertukaran gen, dan membelah, tumbuh serta berkembang, tanpa perencanaan manusia yang matang. Akan tetapi, dengan desakan ekonomi yang jauh kurang, lilitan hutang, tekanan keluarga, membuat saya bangga pada kedua orang tua saya, saya tidak dibuang. Saya lahir dengan selamat di pelayanan kesehatan, mendapatkan ASI walaupun hanya sebentar, hidup pas-pasan, tapi pendidikan menjadi prioritas utama ayah saya.
     Tiba saatnya saya menduduki bangku sekolah dasar dan saya memberi hadiah angka merah di rapor saya. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat orang tua saya putus semangat, ayah saya mengajarkan saya membaca, kakak saya mengajarkan saya mengenal pagi siang dan malam serta waktu dalam konteks WITA karena saya adalah anak domisili Provinsi Bali. Perlahan dengan usaha, nilai di rapor saya tidak merah, tapi pas-pasan. Ketika saya semakin besar, saya menyadari bahwa, perbaikan diri itu harus dilakukan setiap hari. dan dengan riwayat buruk dalam dunia peraportan, sangat mission impossible saya bisa tembus Universitas Airlangga.

     Lalu apa yang terjadi? saya belajar, mengikuti peserta membaca aksara bali walaupun hanya tingkat desa, mengikuti perlombaan siswa tauladan di sekolah dasar, semuanya gagal, kecuali perlombaan desa, hehehe. Life must go on kan? saat Sekolah Menengah Pertama, saya bukan juara umum, bukan juga anggota OSIS, tapi saya mengikuti perlombaan olimpiade matematika di beberapa SMA unggulan. Tentu saja tidak menang, tapi dengan riwayat nilai matematika merah ketika sekolah dasar tetapi mengikuti perlombaan olimpiade di SMA Negeri unggulan membuat saya berpikir, aku bisa menjadi apapun yang aku inginkan asalkan aku berusaha dan orang lain percaya bahwa aku mampu.
     Dengan riwayat nilai pendidikan buruk yang lebih buruk dari kakak, apakah aya tidak di banding-bandingkan. Saya paham dengan kekurangan orang tua saya, mereka belum mampu menahan diri untuk tidak membandingkan masing-masing nakanya. kalian tahu siapa kakak saya? bukan siapa-siapa, dia hanya seorang anak yang mendapat rangking tiap tahunnya dan memperoleh cumlaude di universitas. Jadi bisa dibayangkan kalau dia emas, dan aku cuma rempeyek. tapi bukan berarti rempeyek tidak bisa di makan kan? semuanya memiliki fungsi masing-masing.  
     Menuju universitas tidak lah semudah yang dibayangkan. saya memikirkan perencanaan, memilah-milah karir masa depan, Pilihan saya jatuh pada bidang kemanusiaan, menolong orang. Perasaan takut menjadi manusia terbodoh, Saya berusaha melamar diberbagai Universitas. Saya syok dengan hasilnya, saya lulus di semua Universitas pilihan dan kebingungan memilih salah satu. Kurang NEKAT membuat saya jatuh pada pilihan pendidikan bidan yang tidak jauh dari rumah saya. Padahal saya memiliki keinginan berada di bawah naungan Universitas besar dengan bermacam-macam fakultas. Tujuannya? saya punya banyak relasi. Saya terkurung dalam kebingungan, kepasrahan dan berusaha menjadi seseorang yang idealis di bawah tekanan. Ketika sumpah profesi saya ucapkan di acara wisuda, Saya merasa terikat untuk melanjutkan pendidikan ini. Dengan pengalaman yang buruk mengenai kurang nekat, saya tampik, saya yang notabene anak paling terakhir yang selalu bergantung pada orang tua dan kakak-kakak saya membuang diri ke luar Pulau Bali yang cantik, merantau dan membanting kelemahan diri. Saya pergi merantau ke Surabaya sendirian setelah saya Lulus di ujian seleksi Universitas Airlangga
     Siapa saya? orang lain yang menilai dengan nilai merah, tak sanggup berdiri sendiri, sudah mampu berada di sini walaupun dengan berbagai kegagalan, di anggap hanya bisa melanjutkan pendidikan hingga d3 kini mampu ke Universitas. Gagal ujian seleksi di Universitas Airlangga sebanyak dua kali tidak menyurutkan semangat saya untuk mencoba lagi. Saya mencoba untuk melanjutkan sarjana saya Di universitas unggulan mengambil prodi S1 Kebidanan dari alih jenis D3 kebidanan, bukanlah hal yang mudah. Menolak kesempatan yang ditawarkan, bekerja untuk mengais rejeki, saya tolak, Tanda tangan kontrak pegawai di rumah sakit, saya tolak, demi fokus mempersiapkan diri ke Universitas AIrlanggga. Galau setengah mati ketika melihat teman saya sudah mengabdi di daerah, bekerja, bahkan menikah dengan pekerjaan yang sudah mantap, namun saya apa? rempeyek basi? tidak saya adalah saya yang menjadi pribadi saya. Dont Compare your self with other, It's not Fun. Saya bangga menunda bekerja di Instansi yang mengikat saya di bayar dengan diterima di Universitas Airlangga. Jujur saya bangga. 

     Apakah ini menjadi akhir? tentu saja tidak. Ini baru awal yang baru dan pengalaman saya ini, bukanlah untuk menyombongkan diri, tetapi saya ingin memberitahukan bahwa kamu bisa menjadi apaun yang kamu mau. STAY POSITIVE!
     Ini adalah rejeki saya yang belum tentu juga rejeki orang lain, jadi juga, jangan lihat rejeki dari uangnya saja. Tuhan Maha Adil, jadi tiap orang punya rejekinya sesuai dengan porsinya masing-masing. Salam


Sabtu, 09 April 2016

Belajar dari Ular yang Marah

     Baiklah, saya tidak tau ini menarik atau tidak, tapi bagi saya, ini perlu di catat. Ayah saya, yang sering saya panggil bapak, adalah seorang guru. Dulu, saya pernah menjadi muridnya di sekolah, saat saya duduk di Sekolah Menengah Atas, sampai saat ini saya tetap muridnya, di rumah :). Bapak adalah orang yang suka bercerita, saya menyadarinya jauhhhh dan sangat lama, ketika saya sudah menginjak dewasa, ketika saya sering gagal, jatuh, sakit hati, dan kecewa. Semua kata-katanya, saya dengarkan. Bapak, bukan seseorang yang perfect. He is not perfect, he is smoker. ya, dia perokok yang punya anak 3 di Bali dengan bumbu nyentana. Dan, kami bertiga menerima kondisi ini walaupun sering betengkar, kami semua menyayanginya. Cukup sudah cerita tentang bapak, mari kita ceritakan apa yang di ceritakan bapak. :D

     Singkat saja, saat itu saya lupa kita sedang mendiskusikan apa, tapi hal yang paling saya ingat tentang cerita ini. Cerita tentang pengerajin kayu dan ular. Dulu, ada seorang pengerajin kayu yang memiliki kebiasaan tidak merapikan barang-barangnya setelah bekerja. Suatu hari, datang seekor ular memasuki rumah tersebut. Secara tidak sengaja, ular melintasi gergaji. Ular merasa sangat marah ketika badannya di sakiti oleh gergaji. Karena merasa sangat marah, iya benar-benar melampiaskan kemarahannya pada gergaji. Iya melingkari gergaji tersebut dengan tubuhnya dan melilitnya dengan kuat. Semakin lama semakin kuat melilit gergaji tersebut, akhirnya ular mati karena kehabisan darah. Gergaji adalah benda mati yang diam, tapi ular berpikir bahwa gergajilah penyebab sakit yang iya rasakan saat melintas. Ular pun marah pada gergaji dan melilitnya dengan kuat seperti melilit manusia. Di akhir cerita, bapak mengingatkan saya bahwa marah, adalah kegiatan yang bisa saja menyakiti diri sendiri. Bapak mengingatkan bahwa ketika kita sedang marah, kendalikan amarah tersebut, sebelum kita mati karena marah tersebut menguasai pikiran kita.

Begitulah, semoga bisa menginspirasi.

Kamis, 07 Januari 2016

Mengasuh Bayi Umur 0-3 Bulan


Semangat pagi semua para ibu yang telah berhasil melahirkan buah hatinya, semangat pagi juga untuk pembaca dari semua steak holder. Kali ini saya akan membagikan informasi mengenai asuhan kepada “si kecil” yang baru berumur nol hingga tiga bulan. Memiliki buah hati merupakan dambaan setiap ibu. Ketika sudah dianugrahkan oleh Tuhan, maka para ibu pasti secara naluriah berusaha memberikan yang terbaik kepada “si kecil”. Kemudian timbulah banyak pertayaan, apakah boleh ini, apakah boleh itu, bagaimana dengan ini dan itu?

Bayi merupakan bagian dari kelompok anak yang masih belia, berumur nol sampai dengan sebelum berumur 12 bulan. Dalam mengasuh bayi, para ibu tidak boleh melupakan aspek-aspek penting yaitu kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa, kemampuan sosialisasi dan kemandirian. Aspek kemampuan gerak kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak menggerakkan tubuhnya. Dimana gerakan tersebut melibatkan otot-otot besar. Contoh: kemampuan tengkurap, berguling, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, berlari dan sebagainya. Aspek kemampuan gerak halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuhnya dan dilakukan oleh otot-otot kecil. Kemampuan gerakan ini memerlukan koordinasi yang lebih teliti misalnya menjepit sesuatu, menyentuh dan memegang benda, dan sebagainya. Aspek kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak dalam memberi respon terhadap suara, perintah, pembicaraan orang, komunikasi antara satu individu dengan individu lain dan sebagainya. Aspek sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, berpisah dengan orang terdekat, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya dan sebagainya.

Secara garis besar, tahapan perkembangan anak umur 0-3 bulan yaitu
  1. mampu mengangkat kepala setinggi 450C
  2. mampu menggerakkan kepala dari kiri ke tengah atau dari kanan ke tengah
  3. melihat dan menatap wajah seseorang di depannya
  4. mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
  5. suka tertawa dengan keras
  6. reaksi kejut apabila mendengar suara keras
  7. membalas tersenyum ketika di ajak bicara atau tersenyum
  8. mengenal ibu dengan pengelihatan, penciuman, pendengaran, dan kontak langsung.

Sebagai ibu yang baik dan pengasuh yang baik, memberikan stimulus atau rangsangan kepada bayi adalah komponen penting dalam mendukung tumbuh kembangnya, stimulasi dapat dilakukan sesuai umurnya dari empat aspek tersebut.

Bayi berumur nol hingga tiga bulan dapat diberikan stimulasi untuk mendukung kemampuan gerak kasarnya dengan cara melatih mengangkat kepalanya, berguling-guling, dan latihan menahan kepalanya tetap tegak. Hal itu dapat dilakukan dengan meletakkan bayi pada posisi telungkup, gerakkan sebuah mainan didepannya. Ibu dapat memilih mainan yang bisa bergerak atau mainan bersuara menyenangkan yang mampu menarik perhatian bayi di bantu dengan warnanya yang cerah. Cara lain yang bisa dilakukan adalah memposisikan bayi dengan posisi telungkup dan membuat suara-suara gembira didepan bayi. Kegiatan ini, diharapkan mampu membuat bayi perlahan-lahan belajar mengangkat kepalanya dan dadanya. Lakukan hal ini apabila bayi sudah dirasa siap, apabila bayi belum siap stimulasi yang bisa diberikan adalah dengan mendekatkan mainan ke wajahnya dan membawa mainan tersebut ke arah kanan dan kiri.

Latihan dan rangsangan untuk aspek kemampuan gerak halusnya dapat dilakukan dengan membantunya melihat, meraih, dan menendang mainan. Ibu bisa mengikat sebuah tali menyilang di tempat tidur bayi untuk menggantungkan mainan bayi di sana. Pilihlah mainan yang berwarna cerah, menimbulkan suara, dan mampu bergerak misalnya berputar. Pastikan tali tidak akan lepas dan aman dari jangkauan mulut bayi. Bayi diharapkan dapat merespon dengan melihat mainan tersebut, menendang, atau berusaha menggapainya. Latihan lain yang bisa dilakukan adalah dengan memperlihatkan mainan cerah atau wajah ibu secara dekat kepada “si kecil” hingga bayi tertarik kemudian arahkan mainan atau wajah ibu ke kanan dan ke kiri hingga bayi mau mengikutinya. Bayi juga dapat diajarkan untuk memegang benda. Dengan menyentuhkan mainan menarik ke punggung jari-jari bayi, secara perlahan bayi akan merespon dan berusaha memegang benda tersebut. Pastikan ibu memperhatikan bayi dengan seksama, sehingga bayi tidak menelan benda2 tersebut atau tersedak oleh karenanya. Ajak bayi juga untuk meraba mainan yang berbentuk, kemungkinan bayi akan memakan dan memainkan mainannya di mulut sehingga sangat penting menjaga kebersihan mainan bayi.

Stimulasi kemampuan bicara dan bahasa bagi bayi dapat dilakukan dengan cara mengajak bayi bicara sesering mungkin seperti saat memandikan, memakaikan baju, menyusui, di tempat tidur, dan sebagainya. Ibu juga dapat mengajak bayi meniru suara sesering mungkin. Apabila bayi sudah mampu berceloteh seperti “aaa”, “ii” “oho”. Tirukan suara tersebut di dekat “si bayi” sambil tersenyum. Bayi juga dapat dikenalkan dengan suara musik di radio atau TV. Bayi juga dapat dikenalkan dengan suara percakapan antara ayah dan ibunya dan perhatikan pula respon bayi. Kemungkinan matanya akan memandang orang yang berbicara.

Stimulasi kemampuan sosialisasi dan kemandiriannya dapat dilakukan dengan memberi rasa aman dan kasih sayang. Contohnya sesering mungkin memeluk dan membelai bayi, ajak bicara dengan suara yang lembut, tersenyum kepada bayi sambil menatap wajahnya. Akan ada moment dimana bayi tersenyum dan ibu wajib membalas senyuman tersebut untuk menambah rasa nyaman “si bayi” dalam lingkungan. Ajak bayi dengan cara menggendongnya berkeliling di sekitar rumah sambil menunjuk-nunjuk benda yang berwarna cerah. Tirukan ocehan dan wajah bayi, ayunkan bayi untuk menenangkannya dan nyanyikan nina bobo ketika jam tidur dengan nada lembut diikuti belaian lembut hingga bayi tertidur.

Setelah ibu sukses melakukan stimulasi tersebutibu dapat melakukan kunjungan ke tempat pelayanan kesehatan. Kunjungi bidan atau tenaga kesehatan untuk memperoleh informasi pemeriksaan bayi dan imunisasi. Untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan, dari segi nutrisi, berikan nutrisi yang sesuai untuk lambung atau perut bayi. Utamakan memberikan ASI saja hingga bayi berumur enam bulan. Ibu dapat meminta tenaga kesehatan melakukan skrining pada saat usia bayi tiga bulan dengan KPSP umur tiga bulan. Minta agar tenaga kesehatan melakukan hal tersebut dan mengukur lingkar kepala, panjang badan, dan berat bayi. Lakukan hal ini tiga bulan sekali hingga umur bayi dua tahun untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan bayi. Selain penilaian KPSP, pengukuran berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala, minta tenaga kesehatan melakukan tes daya dengar untuk bayi. Hal ini merupakan penilaian penting untuk bayi umur tiga bulan. Berikan pujian kepada bayi bila hasil memuaskan dan lanjutkan stimulasi sesuai umur.
Dari usia nol hingga lima tahun merupakan usia emas si anak dan para ibu sebaiknya memberikan semua yang terbaik sesuai usianya tanpa berlebihan. Pastikan bahwa “si kecil” dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga mampu memberi kontribusi yang baik bagi dunia. Sekian dari saya, semoga informasi ini dapat membantu semua orang dalam memberi asuhan kepada “si kecil” anugrah dari Tuhan.


Sumber:
Depkes RI. 2005.Pedoman Pelaksanaan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak. 
Sumber Gambar:
http://www.bayi.web.id/seputar-bayi/permainan-bayi/permainan-menyenangkan-bagi-bayi-4-bulan

Sabtu, 28 November 2015

Cerpen

Aku Tidak Akan Berhenti

Aku adalah Riri, begitu mereka memanggilku, aku lulusan Diploma tiga (D3) Kebidanan di salah satu perguruan tinggi negeri di Bali. Menjadi lulusan diploma kebidanan bukanlah hal yang mudah, aku berjuang di sini selama tiga tahun. Di tahun 2014 aku mampu menyelesaikannya. Aku tidak ingin berhenti. Aku mendapatkan informasi mengenai pendaftaran mahasiswa baru di salah satu universitas ternama. Universitas itu menerima lulusan Dtiga kebidanan untuk melanjutkan ke jenjang Sarjana Kebidanan (S1 Kebidanan). Aku sangat tertarik. Aku melompat dari tempat tidur asrama dan membuka informasi tersebut via online. Sudah sangat terlambat, aku tidak memiliki persiapan pendaftarannya besok terakhir. Aku memutuskan untuk menanyakan informasi apakah tahun depan akan ada pendaftaran lagi, dan panitia mengatakan tentu saja. YA!. Aku fokus pada kelulusanku dan mengisi waktu luang dengan bekerja. Tentu saja lulus dari pendidikan bidan dan bekerja dengan pengalaman yang masih minim sangat di pertanyakan. Aku membuat surat lamaran lalu menyebarkannya ke Rumah Sakit yang mungkin mau menerimaku dan mencoba mengambil pekerjaan sampingan yang sesuai.
Aku lulus tahun 2014. Di bulan September, aku mendapatkan tawaran untuk mengasuh seorang bayi berusia tiga bulan. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerimanya karena ini masih dalam lingkup pendidikanku. Aku bisa menggunakan ilmu kebidanan dalam pengasuhan bayi ini. Seiring berjalannya waktu terdapat informasi pendaftaran calon pegawai negeri sipil bulan november. Aku mulai lupa bahwa aku ingin melanjutkan study tahun 2015. Aku berpikir, bila lulus, maka aku akan bekerja dan bisa melanjutkan study setelah mendapat ijin dari atasan. Singkat cerita aku belum beruntung, secara penilaian aku lulus namun nilaiku jauh dari pendaftar lain sehingga dari segi pengurutan nilai. Aku gagal. Untungnya aku belum melepas pekerjaanku sebagai “baby sister” kasarnya. Setidaknya aku tidak jobless
Aku merasa penghasilanku kurang dan aku mencari sumber pendapatan lainnya. Bulan Desember 2014, aku melamar pekerjaan sebagai tenaga pengasuh bayi-bayi terlantar dan tetap bekerja sebagai pengasuh seorang bayi berumur tiga bulan. Setelah berjalan satu bulan aku kewalahan pasalnya aku bekerja dari pukul 08.00 WITA-17.00 WITA sebagai pengasuh bayi umur tiga bulan dan melanjutkan bekerja di yayasan selama 12 jam dari pukul 19.30 WITA-07.30 WITA mengasuh delapan bayi. Dari pukul 17.00 WITA-19.30 WITA aku pulang dan gunakaan untuk merapikan barang dan membawa beberapa baju serta alat mandi karena kemungkinan akan ada waktu dimana aku tidak bisa pulang sehingga aku bisa mandi di tempat kerja. Aku melakukan ini selama satu bulan kemudian aku jatuh sakit. Aku memilih untuk berhenti menjadi pengasuh seorang bayi tersebut saat umurnya sudah mencapai 6 bulan dan hanya bekerja sebagai pengasuh bayi di sebuah yayasan.
Di akhir bulan Januari 2015 Aku mulai mengabdikan diri di sebuah pelayanan kesehatan dasar dan boleh berhenti di akhir bulan Juli 2015. Aku bekerja sebagai pembantu bidan yang menangani pasien. Pasiennya banyak namun tenaga kerja bidannya sedikit. Aku memiliki kesempatan menggunakan banyak ilmuku disana. Aku disana tidak di bayar tetapi ketrampilanku makin terasah. Seminggu setelah masa pengabdianku, aku di panggil untuk mengikuti seleksi pegawai di sebuah rumah sakit swasta dan aku di terima. Aku tidak mungkin berhenti di pelayanan kesehatan dasar ini, maka aku memutuskan untuk berhenti di yayasan tempatku mengasuh banyak bayi yang terlatar. Aku mulai lupa bahwa aku harus belajar untuk persiapan ujian.
Aku di terima di bulan februari di sebuah Rumah Sakit Swasta. Aku mulai menikmati bekerja di sana dan di pertengahan jalan aku tersentak dengan bulan seleksi yang akan dilakukan bulan Mei 2015. Aku kewalahan belajar karena aku masih memiliki dua kewajiban pekerjaan.
Aku membiayai hidupku sendiri, dari segi komunikasi, dan transportasi, siasanya masih tanggung jawab orang tuaku. Maka uang lebihnya aku sisihkan untuk di tabung. Aku mendatangi HRD dan mengatakan akan membatalkan tanda tangan kontrak tenaga kerja. Pihak HRD sebenarnya sudah mengatahui ini karena aku pernah berkonsultasi dengannya dan semua pihak di ruanganku. Aku mengundurkan diri dan pihak rumah sakit meminta mengulur waktu hingga bulan April 2015. Aku setuju karena kau akan berangkat bulan Mei 2015.
“Saya masih mebuka pintu bila kamu berubah pikiran, tetapi apabila itu sudah keputusan yang bulat pun saya tetap membuka pintu. Bila kamu ingin kembali, kita mulai ulangi semuanya dari nol” begitu kata HRD.
Aku mengucapkan terima kasih dan pamit serta melanjutkan tugasku. Sungguh rasanya beban berkuadrat.
Bulan April pun tiba, aku tidak ingin meninggalkan kesan jutek ketika pergi. Aku mengambil keputusan yang berat. Aku belum tentu lulus dari seleksi mahasiswa baru, sudah berani mengundurkan diri dari Rumah Sakit. Aku benar-benar menyesalkan keputusan ini. Tapi saat itu aku bingung sekali, bahkan orang tuaku menyayangkan hal ini. Di bulan April 2015 aku berhasil resign dari Rumah Sakit tersebut dengan status masih orientasi. Aku mengundurkan diri dan melakukan perpisahaan dengan teman-teman yang sudah akrab denganku. Bahkan aku sangat merindukan mereka setelah pergi dari sana.
Aku jobless, tidak ada pemasukan. Semua tabunganku selama bekerja aku gunakan untuk menutupi kebutuhanku selama aku tidak di gaji. Aku kembali meminta uang saku kepada orang tua ketika tabunganku habis. Aku mengikuti seleksi dan meminta izin kepada kepala puskesmas selama dua hari saja. Aku mengikuti seleksi dan dinyatakan gagal. Yang benar saja, ini baru namanya pengorbanan sia-sia.
Aku di ejek oleh orang tuaku. “Keputusan bodoh apa yang kamu ambil?” begitu katanya. Aku benar-benar tidak bisa berbicara. Aku melanjutkan tanggung jawabku mengabdi di Pelayanan Kesehatan Dasar tersebut dan tidak lupa belajar untuk mempersiapkan untuk seleksi gelombang kedua. Aku pikir masih ada kesempatan.
Aku tidak berbicara pada orang tuaku selama seminggu bahkan aku tidak meminta uang jajan. Beruntung sekali aku punya kakak yang menyodorkan aku uang untuk makan dan transportasi. Mereka mulai berbicara padaku dan aku pun begitu setelah emosi kita semua runtuh. Aku menuju pusat psikologi dan berkonsultasi, aku merasa sangat tertekan saat tanpa penghasilan dan bukan kepalang rasanya. Bekerja dengan pasien yang banyak tanpa mendapat uang sepersen pun. Kadang aku mesti membayar pasien yang lupa membayar. Setiap kali sial aku selalu mengatakan dalam hati “Sudah kere tambah kere” dan aku menarik nafas panjang lalu menghembuskan pelan-pelan. Berdoa dalam hati “Ya Tuhan, berat sekali menjadi tenaga kesehatan” tentu saja Tuhan tidak membelas melalui ucapan. Aku hanya menjadi sabar seteah mengeluh padaNya.
Aku melakukan persiapan untuk seleksi gelombang kedua pada Universitas yang sama pula dan tidak lupa aku memenuhi tanggung jawabku sebagai tenaga pengabdi di sebuah Pelayanan Kesehatan Dasar hingga masanya selesai. Bulan Agustus 2015 pun datang, aku pamit dari pelayanan kesehatan dasar tersebut dan melakukan persiapan ujian. Aku belajar mempelajari ulang semua hal yang mungkin diujiankan disana. Aku tidak bekerja dimana-mana. Aku benar-benar jobless sehingga semua urusan rumah menjadi tanggung jawabku 50%, sisanya kita bagi-bagi dengan keluarga. Keluargaku tidak mampu mebayar pembantu karena itu semua pekrjaan rumah kita bagi-bagi bersama.
Tiba saatnya, aku berangkat bersama menujulokasi Universitas tersebut. Surabaya, aku tiba di sana, aku mencari kos kakakku. Kebetulan dia bersekolah di sekitar sana. Universitas yang aku inginkan ini adalah universitas bergengsi dan siapapun ingin menimba ilmu di sana. Sistemnya rapi, dan semua akan senang bila bisa di bimbing di sana. Kupikir disana akan banyak motivasi, bertemu dengan banyak orang serta mendapatkan kesempatan berkomunikasi dengan mereka, menambah ilmu pengetahuan. Aku melakukan beberapa persiapan deengan pengalaman gagal di gelombang pertama. Aku optimis hari itu.
Selesai ujian aku melakukan persembahyangan Surabaya. Di sana ada sebuah tempat persembahyangan yang bisa aku kunjungi. Lokasinya lumayan jauh dari kos kakakku. Kemudian aku berjalan-jalan menghilangkan “penat”. Aku menunggu pengumuman, aku membuka halaman webnya saat sudah di rumah, agar aku lebih siap. Aku dinyatakan tidak lulus. Lagi!!!. Dan aku bersama kakaku berpandangan. Aku tidak ingin menampakan sebuah kesedihan di sana dan kakaku memberi motivasi, dia adalah kakak penyayang. Mungkin karena dia lahir di tanggal 14 Februari sehingga sifatnya seperti itu. “Tahun depan kita coba lagi, Semangat” begitu katanya.
Aku terhanyut dalam beberapa jam. Semua pertanyaan satu persatu muncul di dalam benakku. Mengapa ini terjadi? Apa aku kurang berusaha? Hidup ini terlalu indah untuk di tangisi, maka dalam lamunanku, tidak ada air mata. Pikiranku hanya berpaku pada aku gagal. Untuk kedua kalinya. Dan inilah yang terjadi.
Ku ambil laptop ku. Pemberian hadiah dari ayahku ketika aku semester 5 di perguruan tinggi diploma kebidanan. Warnanya biru, ayahku membelikan ini untuk mendukung aktivitas pendidikanku. Bentuknya mini, tapi ini sudah cukup untuk kebutuhanku. Aku bisa membuat tugas dalam bentuk word, presentasi dan office lainnya. Aku juga mengandalkan program media player untuk menonton film motivasi serta mendengarkan lagu. Momen ini aku gunakan, ku pilih semua lagu semangat yang ada dalam folder musik laptopku, ku ikuti alur senandung dan alunan lagu. Aku mulai merasakan aura semangat tersebut, pikiranku mulai melayang. Memikirkan hal-hal yang bisa aku lakukan setelah ini.
Aku beranjak, aku mengambil langkah dan mencari informasi pekerjaan. Aku akan mecari pekerjaan yang bisa aku kerjakan. Posisiku masih di Surabaya. Besok pagi aku berangkat menuju Bali. Rumahku. Sambil mencari informasi aku menghubungi semua tawaran yang sempat aku tunda karena harus fokus belajar. Banyak yang mengatakan sudah mendapatkan asisten dan tenaga. Tapi ada satu yang menerimaku dan mengajak untuk interview pribadi.
Setibaku di Bali aku langsung beres-beres di rumah dan membuat curiculum vitae-ku. Aku diterima menjadi asisten seorang bidan dan bekerja di sana dari pagi jam 08.00 WITA-14.00 WITA dari Senin hingga Sabtu dan libur di hari Minggu. Aku melakukan hal-hal yang bisa aku kerjakan. Satu bulan bekerja di bidan aku mendapat tawaran untuk mengajar anak TK membaca dan menulis, aku terima lalu beberapa hari kemudian aku di ajak untuk bekerja sama dengan seorang dokter spesialis kebidanan sebagai asistennya. Aku kebingungan tapi tenagaku masih bisa digunakan untuk melakukan ketiga pekerjaan tersebut.
Aku membuat jadwal harian dalam bentuk matriks tanggal dan kegiatan. Aku bekerja Senin sampai Sabtu di sebuah praktik bidan dan mengajar dua kali seminggu di kawasan denpasar sore harinya. Ketika aku harus menjadi asisten dokter maka tidak ada jadwal mengajar. Tidak terasa sudah tiga bulan berjalan seperti ini. Di akhir tahun aku mulai mengakhiri tragedi yang mungkin berulang. Aku harus memilih pekerjaan mana yang akan aku kerjakan.
Aku memeriksakan mataku karena aku sering mengalami gangguan pengelihatan serta sering membenturkan diri pada tembok, kursi, meja, atau sofa tanpa sengaja. Aku terdiagnosa mengalami glukoma karena keturunan dan riwayat pemakaian obat steroid di mata. Aku berdoa kepada Tuhan, cobaan apa lagi ini. Satu lagi beban pengeluaran bertambah. Aku mengatakan ini pada keluargaku. Ayah menyemangati ku dan Ibu sedikit bingung karena memikirkan biaya berobat. Ayahku ingin terlihat santai
“Kalau kamu bukan anak kesehatan, mungkin kamu tidak memiliki pemikiran untuk memeriksakan mataku ke dokter. Semuanya masih bisa diobati, uang bisa dicari, jaga kesehatan” kata ayahku
Aku tak kuat menahan tangis, aku tersenyum dan berusaha menjaga kesehatanku. Aku beresiko buta, dokter tidak mengatakan apapun, dia tidak mau menyimpulkan dengan cepat, dia hanya ingin melihat bagaimana perkembanganku setelah diberi pengobatan.
Pacarku memilih pergi dan tidak ingin bersamaku lagi. “Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi, kamu terlalu baik untukku, kamu juga terlalu sibuk, bahkan sedikit sekali waktu kita untuk bertemu” begitu katanya ketika aku menelfonnya. Aku diam dan selanjutnya jelaslah, sangat marah
Dalam malam itu, sedih bukan kepala menghadapi tahun-tahun ini, rasanya semuanya buntu, sedih, kalut, dan memenudungkan hati.
Aku kembali terhanyut pada kondisi ini. Segera aku meloncat dari tempat tidur dan mengambil laptopku. Aku pilih lagu yang meningkatkan semangatku. Bayangan memori ketika kita bersama muncul silih berganti. Aku menangis. Ku biarkan semua deretan lagu itu menyemangatiku tanpa henti hingga aku tertidur.
“Dan bernyanyilah senandungkan isi suara hati bila kau terluka”
“Nyanyikan alunan lagu yang mampu menyembuhkan lara hati, warnai hidupmu kembali”
“Menarilah”
“Bernyanyilahhhh”
Esok harinya aku merangkai semua kegiatanku sesuai jadwal. Perlahan-lahan aku mengatakan akan berhenti dari pekerjaan mengajar dan menjadi asisten bidan. Aku akan belajar tanpa meninggalkan pekerjaanku juga. Aku harus menggunakan waktuku sebaik-baiknya sebelum aku tidak mampu melihat lagi. Aku harus meraih apapun. Aku ingin lulus di Universitas Cantik itu. Sangat ingin. Aku melakukan persiapan untuk melakuakn tes di tahun depan di bulan Mei. Tahun depan, aku harus kuliah. Aku berhenti memikirkan hal-hal lainnya dan aku terus mencoba. Gajiku menjadi asisten dokter sudah cukup untuk kebutuhanku sehari-hari. Aku akan melakukan deposito untuk bisa menambah pendapatan tanpa bekerja. Aku tidak akan berhenti, hidupku terlalu indah untuk ku sesali. Sebelum hal-hal buruk merasuk suksmaku, aku ingin bisa belajar menari diatasnya dan tetap bahagia dalam perjuanganku. No body can stop me. Aku tidak akan berhenti.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

ASAM FOLAT UNTUK CALON IBU DAN CALON ANAK SEHAT


Asam folat biasanya sering diperbincangkan dikalangan atau lingkungan gizi pada ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa para ibu hamil dan ibu menyusui sebenarnya sangat memerlukan asam folat. Tulisan ini saya informasikan dan bagikan pada semua kalangan untuk menambah infomasi mengenai asam folat. Pembahasan mengenai asam folat sebaiknya diawali dengan pertanyaan apa itu asam folat?, apa fungsinya?, seberapa penting asam folat bagi perempuan?, dan bagaimana mendapatkannya?.
Asam folat adalah senyawa induk dari kumpulan senyawa yang disebut folat. Asam folat atau vitamin B9 adalah satu-satunya suplemen yang dianggap esensial untuk ibu hamil di Inggris karena asam folat dapat menurunkan angka kejadian Neural Tube Defek (NTD) sebesar 50-70%. Beberapa peneliti yang mendukung mengenai hal ini melalui penelitiannya yaitu Hibbard, Smithells, Laurence, Czeizel, dan Dudaz. Asam folat berhubungan dengan pembentukan sel-sel darah. Kebutuhan akan asam folat meningkat pada masa kehamilan dan masa menyusui. Asam folat juga merupakan unsur essensial untuk pembentukan timidin. Timidin sendiri merupakan komponen dari DNA. Terdapat informasi bahwa asam folat sebagai koenzim dalam sintesis pirimidin sehingga merupakan unsur penting dalam sintesa DNA. Informasi mengenai pentingnya asam folat dalam sintesa atau pembentukan DNA dapat dikaitkan dengan kehamilan trimester pertama.
Bagi kalian para remaja, atau calon ibu atau bahkan seorang ibu dan siapapun yang belum mengerti mengenai ulasan di atas, dapat saya perjelas dan ulang sekali lagi. Intinya, asam folat merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan saat sintesa DNA. Dimana hal ini terjadi pada saat kehamilan trimester pertama.
Kehamilan trimester pertama dimulai dari usia kehamilan nol sampai 14 minggu. Usia kehamilan dan usia janin memiliki selisih dua minggu dimana usia kehamilan dua minggu lebih awal dari usia janin karena dihitung dari hari pertama haid terakhir. Usia kehamilan empat minggu menandakan usia janin dua minggu. Pada trimester pertama terjadi perjalanan hasil pembuahan menuju tempat tertanamnya calon janin dan awal mula terbentuknya semua organ primintif atau organ awal. Pada masa ini juga masa yang rentan atau mudah dipengaruhi oleh efek eksternal yang dapat menyebabkan kelainan. Ibu hamil secepatnya mengetahui bahwa dirinya hamil pada usia janin dua minggu. Karena pembentukan organ dan implantasi atau penanaman memerlukan asam folat yang cukup maka sesegera mungkin ketika ibu mengetahui dirinya hamil. Ibu harus segera memenuhi atau mecukupi kebutuhan asam folat pada tubuhnya dan dilanjutkan hingga usia kehamilan 14 minggu. Ibu hamil dan ibu menyusui merupakan kelompok yang paling sering mengalami defisiensi asam folat. Kehamilan dan masa menyusui adalah masa dimana terjadi peningkatan kebutuhan asam folat. Apabila kebutuhan tidak terpenuhi,akan terjadi defisiensi asam folat. Defisiensi asam folat dikabarkan merupakan salah satu penyebab terjadinya NTD.
Tubuh manusia tidak dapat mensistesis struktur asam folat sehingga tubuh harus memperoleh dari makanan atau suplemen. Akan tetapi, Asam folat bersifat termolabil dan larut dalam air sehingga mudah rusak oleh karena proses memasak. Terdapat data yang menyebutkan bahwa asam folat dapat rusak sebanyak 30-90% dalam proses memasak. Karena kebutuhan dari asam folat sangat penting, maka pilihan untuk memenuhinya adalah dengan suplementasi. Mengonsumsi suplemen asam folat memberikan efek yang jelas.
Neural Tube Defek adalah kelainan yang disebabkan oleh kegagalan penutupan lempeng saraf. Penutupan lempeng saraf terjadi pada usia kehamilan tiga sampai empat minggu. Mengonsumsi asam folat selama masa kehamilan dari umur kehamilan nol sampai 14 minggu dapat menurunkan kejadian dari NTD. Akan tetapi, penyebab pasti dari NTD belum diketahui. Wanita hamil dan wanita menyusui dianjurkan mengonsumsi asam folat 400mg dalam satu hari untuk menurunkan angka kejadian dari NTD.
Informasi mengenai kepastian kehamilan positif atau negatif disadari pada ibu saat usia kehamilan 4 minggu atau ketika haid bulan berikutnya tidak datang. Berdasarkan hal tersebut, sangat bermanfaat apabila para ibu yang merencanakan kehamilan mengonsumsi asam folat dengan dosis satu kali 400mg dalam sehari. Suplementasi asam folat akan di simpan di dalam tubuh yakni salah satunya di hati yang dapat bertahan selama kurang lebih tiga bulan. Informasi yang jelas kepada ibu hamil dapat membantu ibu hamil dalam mempersiapkan kehamilannya.
Sumber makanan yang mengandum asam folat yaitu ragi, hati, ginjal, sayuran berwarna hijau, kembang kol, brokoli, susu, daging, dan ikan dapat dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui dengan proses memasak yang hati-hati sehingga bisa memperoleh efek kerusakan minimal yaitu sebesar 30%.
Kehamilan tidak selalu berjalan mulus walaupun kehamilan merupakan hal yang fisiologis. Terdapat beberapa ibu hamil yang memerlukan perhatian khusus seperti ibu hamil yang harus mengonsumsi obat-obatan. Obat-obatan ini harus dikonsumsi karena beberapa gangguan yang dimilikinya seperti ibu dengan penyakit kejang. Mengunsumsi asam folat juga dapat menyebabkan efek dari obat epilepsi berkurang. Hal ini ditandai dengan terdapatnya kasus ibu hamil yang mengalami kejang dengan pengobatan epilepsi aktif dan disertai asam folat.
Penyerapan asam folat tidak akan optimal bila dilakukan bersamaan dengan mengonsumsi obat seperti fenitoin, primidon, kontrasepsi oral, methotrexate, fenobarbital. Dan juga, orang-orang yang mengonsumsi obat-obatan diatas lebih cenderung mengalami defisiensi asam folat. Gangguan malabsorbsi atau gangguan penyerapan juga dapat menyebabkan kekurangan asam folat. Hal ini dapat saja terjadi pada orang yang mengalami gangguan pencernaan karena asam folat di serap di sepanjang usus halus. Pemberian obat kepada ibu hamil sering dianggap tidak perlu sehingga pemberian asam folat menjadi sedikit sulit. Hal ini yang menyebabkan asam folat juga di kenal sebagai Vitamin B9 di beberapa negara Eropa.
Saran yang dapat saya berikan kepada semua ibu yang merencanakan kehamilan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau bidan serta petugas gizi. Mengonsumsi asam folat menjadi hal yang penting dan urgent bagi ibu yang mempersiapkan kehamilan dan ibu hamil dengan usia kehamilan 0-14 minggu. Walaupun penyebab pasti dari NTD belum jelas, tetapi mengonsumsi asam folat dapat menurunkan kemungkinan terjadinya NTD.

Nah, itulah hal yang bisa saya bagi pada kalian semua, semoga isinya dapat bermanfaat. Kritik dan saran pada tulisan ini bisa penulis terima untuk meningkatkan kualitas diri penulis. Sekian dari penulis, salam bahagia untuk kita semua. Be good person, be god mom, be good parents J


Sumber:
Jordan, S. 2003. Farmakologi Kebidanan. Jakarta: EGC.
Coad, J dan Melvyn Dustalll. 2006. Anatomi dan Fisilogi untuk Bidan. Jakarta: EGC.

Senin, 06 Oktober 2014

GRADUATION

    Hari ini aku mau membagi cerita. Awalnya aku akan membicarakan tentang apa cita-citaku. Zzzzzz gak usah formal ya, sekarang waktunya gak formal deh. Sebenernya aku pengen jadi penulis, sayangnya aku pribadi yang perlu tutor tegas, garang tapi bener-bener membimbing. Sayangnya aku gak pernah menemukan, jadi aku asal belajar di sela-sela waktu yang membuat aku benar-benar merasa "bosan". Hasilnya ya abal-abal. Hahahaha.
    Apa sih alesannya aku pengen jadi penulis dan pendidik? Aku pengen banget jadi penulis dan pendidik, dengan jalan itu aku bisa bener-bener berguna bagi negara. Jadi pendidik artinya aku memiliki kewenangan untuk mendidik generasi penerus sejak dini. Jadi penulis itu membuat aku menjadi sosok yang memberi. Aku lebih senang bila ilmuku dapat dibagi, walaupun sekarang aku belum punya banyak yang bisa di share. keduanya merupakan cita-cita yang gak ada yang tau sebelum aku share disini. Karena aku gak pernah bilang.
    Aku lulusan perguruan tinggi diploma jurusan kebidanan. Ini bisa di bilang nyasaar ya. Karena aku gak nemu tutor, aku harusnya berusaha mencari di  universitas dengan fakultas sastra. Tapi gak aku lakuin.

    Jujur, aku milih bidan karena pikiran yang selalu berubah-rubah. Kelas 3 SMA aku gak tau harus lanjut kemana jadi aku ngikut-ngikut aja. Aku nyoba untuk melakukan tes di universitas-universitas. Ketika LULUS setelah melewati ujian-ujian galauaers anak SMA yang nyari PTN. Aku lulus di sebuah perguruan diploma jurusan kebidanan, universitas pendidikan keguruan di jurusan kimia dan universitas di fakultas kedokteran jurusan ilmu kesehatan masyarakat, Aku malah dengan tidak sengaja karena mengikuti arus, Aku terjatuh di pilihan bidan. Bidan itu prospeknya besar kalo aku sendiri yang membuatnya menjadi besar... Ya kan. Mulailah aku menerima segala derita saat menempuh perkuliahan. Tapi sebenarnya aku pengen banget jadi seorang guru yang bisa buka bimbel kecil-kecilan di rumah. Karena iming-iming bidan lebih baik KATANYA, ya udah aku menurut pada yang memberikan informasi tersebut. (gampang banget ya di hasut)

3 tahun waktu berlalu dengan segala macam tekanan, aku mulai belajar BAHWA TIDAK ADA PILIHAN YANG SALAH DIANTARA PILIHAN BAIK YANG ADA.

SETIAP KEPUTUSAN YANG AKU AMBIL, AKU HARUS SIAP DENGAN KONSEKUENSINYA

AKU TIDAK DAPAT MENYALAHKAN ORANG LAIN SAAT AKU MENGHADAPI KESULITAN DARI PERJALANAN KEPUTUSANKU KARENA ORANG LAIN HANYA PENASEHAT SEDANGKAN AKULAH YANG MENGAMBIL KEPUTUSAN

Akhirnya, aku lulus dengan nilai yang biasa aja di antara yang lain dengan perjuangan yang biasa aja. Berarti ini setimpal.

Aku belajar untuk tidak menyesal, mengucapkan terima kasih dan harus menerima bahwa setelah ini, jalanku menjadi lebih panjang lagi.

Tapi tidak menutup mata dan telinga,, banyak kebahagiaan yang aku dapatkan yang terselip di antara penderitaan tersebut.



Awal tahun pertama aku bertemu 57 orang yang unik dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Kemudian salah satu diantara mereka menjadi saudara yang menggantikan saudara kandung karena kami semua tinggal di rumah orang lain, ASRAMA.


Menjadikan rumah orang lain sebagai rumah kita sendiri, melewati hari dengan saling peduli, bertengkar, memaafkan,  tertawa, bersedih, dan meratap serta mencoba berusaha. Semuanya telah dilalui. Kami menemukan hal lain dalam hal yang aku sebut penderitaan.

Tahun berlalu dan kami harus merelakan salah seorang pergi dari kami dan tak ingin kembali bersama. Kemudian bulan-bulan berikutnya kami harus merasakan kesedihan ketika saudara asrama kami harus mengalami kendala dalam studinya karena masalah yang harusnya dapat kami cegah bersama. Dan rasa syukur kami rasakan kembali ketika sahabat kami mampu memberanikan diri untuk kembali pada wadah ini dan mencoba meraih impiannya.


Ni Nyoman Triyani (Nini) memegang dompet : Saudara asuh yang dipertemukan diasrama.
Tanpa kita sadari semua, kita merupakan sekumpulan orang yang memang akan dipertemukan disuatu tempat dan kami benar-benar berkumpul dalam sebuah wadah pendidikan diploma III.

Puji syukur dan rasa takut kehilangan muncul bersamaan pada saat kami merayakan kelulusan kami bersama jurusan lain. Syukur kami panjatkan karena telah menyelesaikan pendidikan ini. Sedih karena besok, tidak akan sama seperti kemarin. Saat jam 10 malam kami masih berkeliaran di lorong asrama mencari sebuah tawa gurau karena sulit tidur, berubah menjadi diam di rumah hanya dengan segelintir orang (keluarga). Terbiasa dengan keramaian 50 orang lebih dan kembali merasakan suasana hidup bersama beberapa orang yang bisa dijumlah hanya sepuluh atau bahkan kurang.


DAN AKHIRNYA SAYA LULUS BERSAMA MEREKA YANG TERKASIH DAN HARUS BELAJAR LAGI MENERIMA KONSEKUENSI DARI KELULUSAN INI. INI ADALAH AWAL BARU LAGI SETELAH AKHIR DARI AWAL PERKULIAHAN

TERIMA KASIH KEMARIN SEKUMPULAN BIDADARI. I LOVE YOU MIDWIFERY XIV